Mikroskop atau teleskop? “Critical Thinking vs Strategic Thinking”

Setiap pagi, sebelum tenggat mulai mengejar, kita memilih “lensa” yang akan kita pakai.

 

Kadang kita jadi detektif.

Kadang kita jadi arsitek.

Kadang… dua-duanya sekaligus.

 

Mikroskop – Critical Thinking

Ada hari-hari ketika sebuah kontrak terasa seperti labirin.

Kita menelusuri setiap pasal, setiap koma, setiap jeda.

Mencari apa yang tidak terlihat oleh orang lain.

 

Detail yang Mengubah Segalanya

Bagi orang lain: sepele.

Bagi kita: potensi mengubah nilai transaksi.

Dan di momen itu, kita tahu mikroskop adalah sahabat kita.

 

Kenapa Mode ini Penting?

Karena setiap kali seseorang berkata,

“Tenang, ini kontrak standar,”

kita tahu itu adalah kalimat paling tidak standar dalam sejarah negosiasi.

 

Lalu Ada Hari Ketika Kita Jadi Arsitek (Teleskop – Strategic Thinking)

Hari ketika kita tidak lagi melihat paragraf, tapi melihat arah.

Melihat peta besar.

Melihat apa yang ingin dicapai klien, bukan hanya apa yang tertulis.

 

Seni Menahan Diri

Semua poin harus dimenangkan.

Kadang kita sengaja melepas poin kecil, karena kita tahu ada kemenangan yang lebih besar menunggu di depan.

 

Membaca Situasi, Bukan Hanya Dokumen

Negosiasi bukan hanya soal kata-kata.

Ia adalah soal ritme, energi, dan intuisi.

Lawyer strategis membaca ruangan seperti membaca pasal.

 

Dua Lensa, Satu Tujuan

Terlalu fokus pada detail, kita bisa tersesat.

Terlalu fokus pada visi, kita bisa tersandung.

Keseimbangan itulah seni menjadi lawyer: tajam, solutif, dan tetap manusiawi.

 

Hari ini, lensa mana yang kamu pakai?

 

Mikroskop untuk melihat risiko, atau teleskop untuk melihat peluang?

 

Atau…

kamu sedang memegang keduanya sambil menyeruput kopi ketiga.

Leave a Reply