Setiap organisasi punya kebiasaan. Ada yang lahir dari strategi, ada yang lahir dari sejarah, dan ada juga yang lahir… karena “dulu pernah kejadian, jadi ya sudah, kita lakukan terus saja.”
Dan menariknya, kebiasaan yang paling jarang dipertanyakan sering menjadi yang paling kuat bertahan. Bukan karena paling benar tapi karena paling nyaman.
Saya pernah berada dalam sebuah rapat ketika seseorang bertanya, “Kenapa proses ini harus lewat tiga meja?” Jawabannya sangat cepat, penuh keyakinan: “Karena dari dulu begitu.”
Kalimat itu selalu membuat saya tersenyum. Bukan karena lucu, tapi karena familiar.
Hampir setiap organisasi punya “tradisi” yang tidak ada yang benar-benar ingat asal-usulnya.
Masalahnya, kebiasaan yang tidak dipertanyakan bisa berubah menjadi risiko yang tidak terlihat.
Ia berjalan diam-diam, tidak mengganggu… sampai suatu hari ia menghambat inovasi, memperlambat keputusan, atau bahkan menimbulkan masalah governance.
Kapan kebiasaan perlu dipertahankan?
Ketika kebiasaan itu:
- memperkuat integritas,
- menjaga kualitas keputusan,
- dan selaras dengan tujuan organisasi.
Kebiasaan yang baik adalah fondasi.
Ia membuat organisasi stabil dan konsisten.
Kapan kebiasaan perlu ditinjau ulang?
Ketika satu-satunya alasan keberadaannya adalah: “Karena sudah biasa.”
Atau ketika kebiasaan itu:
- menghambat efisiensi,
- tidak lagi relevan,
- atau tidak ada yang bisa menjelaskan logikanya.
Di titik ini, mempertahankan kebiasaan bukan lagi kehati-hatian, itu justru risiko.
Peran kita sebagai profesional?
Menjaga keseimbangan antara menghormati struktur dan berani bertanya.
Organisasi yang matang bukan yang mempertahankan semua kebiasaan, tetapi yang berani mengevaluasi kebiasaan dengan kepala dingin dan data yang jernih.
Karena pada akhirnya, kebiasaan seharusnya melayani tujuan organisasi, bukan menjadi alasan untuk berhenti berkembang. Dan kadang, pertanyaan sederhana seperti:
“Apakah ini masih benar, atau hanya…terbiasa?” bisa menjadi titik awal perubahan besar.
