Antara Confident dan Insecure: Drama Sehari-hari Lawyer

Menjadi lawyer itu mirip jadi aktor di panggung teater. Bedanya, panggung kita adalah ruang sidang, meja rapat, atau bahkan ruang Zoom dengan koneksi internet yang suka putus di saat paling krusial.  

Di balik jas rapi dan bahasa hukum yang terdengar meyakinkan, ada dua karakter yang selalu ikut bermain: Confident dan Insecure. Mereka seperti duo komedi yang tak pernah absen, kadang saling melengkapi, kadang saling menjatuhkan.  

Confident: Sang Aktor Utama

–  Masuk ruang sidang atau pertemuan dengan senyum tipis… meski semalam lembur sampai jam 2 pagi. 

– Membuka presentasi klien dengan nada tenang… padahal jantung berdegup seperti drum konser Coldplay.  

– Confident adalah energi yang membuat kita berani berkata, “Your Honor, izinkan saya menjelaskan…” meski pikiran penuh catatan revisi.  

Insecure: Sang Pemeran Pendukung

 

–  Insecure berbisik: “Apa aku cukup pintar? Apa aku terlalu muda? Apa aku terlalu tua?”  

–  Ia muncul saat membaca footnote kontrak lawan yang lebih detail dari catatan harian kita.  

– Kadang ia membuat kita overthinking soal tanda koma dalam dokumen, seolah nasib perusahaan bergantung pada tata bahasa.  

Ironisnya, dunia hukum juga mengajarkan bahwa kadang confident bisa menutup celah logika, sementara insecure bisa menjaga kita dari kesalahan fatal.  

Terlalu percaya diri bisa jatuh, terlalu insecure bisa kehilangan kesempatan.  

Seperti kopi dan gula: terlalu pahit bikin klien kabur, terlalu manis bikin reputasi diabetes.  

Lawyer dengan leadership sejati bukan menyingkirkan insecure, tapi menari bersamanya, tanpa kehilangan ritme:

– mengakui bahwa kita tidak tahu segalanya.  

– hadir dengan solusi, bukan sekadar keluhan.  

– menertawakan diri sendiri saat salah sebut pasal, lalu memperbaikinya dengan tenang.  

Jadi, kalau ada lawyer yang terlihat selalu percaya diri, jangan terkecoh. Bisa jadi ia sedang berdialog batin dengan insecure-nya sambil tersenyum elegan.  

Dan mungkin, itulah seni menjadi lawyer: menyulap keraguan jadi keyakinan, lalu menyajikannya dengan humor, satir, dan secangkir kopi yang tidak pernah cukup.

Tinggalkan Balasan